Karakter

5 Cara Belajar Menjadi Diri Sendiri

Perempuan sejati adalah mereka yang berani menjadi diri sendiri. Be Yourself, best of yourself.

BICARAPEREMPUAN.COM – Hai, girls! Kita–perempuan–pada satu saat sering terjebak pada tuntutan untuk menjadi “super”, dengan sedikit atau banyak pemaksaan diri sendiri.

Sekaligus, di sisi lain, kita juga sering terjebak untuk menjadi pasrah, tanpa berani untuk mempunyai ekspektasi yang lebih tinggi.

How ironic!

Ini bisa terjadi pada setiap perempuan kok. Jadi, wajar saja, girls! Misalnya, sebagai perempuan yang sudah menikah, kita nanti juga kadang ada keinginan untuk melakukan hal-hal yang lebih bermanfaat bagi orang banyak di satu sisi, dan harus menyediakan diri bagi keluarga di sisi lain.

Tapi ternyata, semua itu cukup menyita energi dan waktu. Hingga saat kelelahan, kita pun cenderung cepat menyerah.

Kalau sudah begini, kita sering menjadi kehilangan arah, nggak konsisten. Kadang terlalu berenergi sehingga haus untuk melakukan segala macam hal, kadang lalu kelelahan dan enggan terlibat.

Namun, seiring waktu, kita bisa kok belajar untuk belajar memahami dan menjadi diri sendiri dengan beberapa cara berikut ini.

Beberapa Langkah yang Bisa Kita Lakukan untuk Belajar Menjadi Diri Sendiri

5 Cara Belajar Menjadi Diri Sendiri

1. A Long Road to be MySelf

Belajar untuk memahami dan menjadi diri sendiri itu jelas tidak mudah. Butuh kejujuran. Mulai dari tentang bentuk fisik, eksistensi, dan identifikasi mimpi-mimpi di dalam diri sendiri.

Yang ada, sering sekali justru kita lebih sering membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Bener nggak tuh?

Kita sering kagum kepada seorang rekan yang sangat prudent dalam bekerja, begitu tekun, dan nyaris tidak pernah melakukan kesalahan dalam pekerjaannya. Ia nampak sangat sempurna di mata kita. Tentu saja kita lantas membandingkannya dengan diri sendiri, yang banyak bicara, dan cepat bosan.

BACA JUGA:  Menjadi Diri Sendiri yang Lebih Baik di Tahun 2020 Itu Mudah Kok!

Pastinya ini nggak sehat kan, ya?

Membandingkan diri sendiri mungkin itu cenderung tidak adil. Bukankah setiap pribadi itu unik dan memiliki napasnya masing-masing? Napas untuk liar atau jinak, misterius atau mengumbar, jenaka atau serius?

Bukankah setiap keunikan itu memberi warna dalam hidup? Betapa akan membosankan jika semua orang tekun dan penurut. Akan menyeramkan pula jika semua orang liar dan berontak.

Maka, biar saja kita menghela napas kita masing-masing. Kita barangkali memang tidak bisa selantang orang lain ketika bicara. Atau tidak bisa selembut puteri keraton saat membujuk. Toh kita bukan mereka, dan mereka bukan kita. Iya kan?

Terima kondisi diri sendiri, apa adanya.

2. Make Your Own Standing Position

Setelah melalui jalan panjang untuk lebih memahami dan belajar menjadi diri sendiri, maka kemudian kita pun punya kesempatan untuk menentukan di mana posisi kita dapat berdiri.

Karena menerima keadaan riil diri sendiri saja tidak cukup. Pasti masih ada potensi yang dapat dikembangkan agar bermanfaat juga bagi orang lain.

Seringkah kamu merenung dan bertanya pada diri sendiri, apakah yang sudah kita sumbangkan untuk membuat dunia tersenyum sudah cukup? Sederhananya, apa sih yang sudah kita lakukan untuk keluarga? Sudahkah kita juga melakukan kewajiban kita di kantor secara optimal? Sudah tergalikah semua potensi kita untuk menjadi lebih bermanfaat bagi sesama, bagi orang-orang yang kita cintai?

Badan Pegal: Tanda 3 Penyakit Serius dan 3 Tip Mengatasinya

3. Be Different, Tapi Bukan Asal Beda

Setiap jiwa punya caranya masing-masing untuk menjadi diri sendiri dan berbeda sebagai individu yang unik. Dan menjadi diri sendiri yang berbeda itu adalah suatu keharusan supaya kita bisa teguh dalam eksistensi diri sendiri.

Contohnya, sebagai seorang perempuan, kita tentu cara untuk menyelesaikan masalah kita sendiri. Ya kan?

BACA JUGA:  Kamu Tipe Orang Introvert? Kenali Dirimu Lebih Jauh!

Sebagai seorang individu, kita punya otoritas penuh terhadap diri kita sendiri. Kita yang paham betul, bagaimana karakter kita, bagaimana kita ingin diperlakukan. Maka, kita pun yang wajib memperlakukan orang lain dengan baik pula.

Perempuan yang belajar menjadi diri sendiri, akan paham di mana letak “perbedaaan” yang menjadi ciri khasnya dan mengembangkannya sebagai kekuatan untuk berdiri di posisi yang ia pilih.

Kita memang berbeda satu sama lain. Tapi, perlu diingat, jangan asal beda. Kecenderungan untuk menjadi berbeda kadang disalahartikan dengan asal mengambil posisi berlawanan. Padahal, nggak gitu juga caranya.

Kuncinya adalah sadari kondisi riil kita, tetapkan posisi, dan gali keunikan di mana kita akan menjadi berbeda dengan orang lain secara natural. Bukan asal beda.

4. Aku Bukan Ancaman Bagimu, Aku Bermanfaat Bagimu

Apabila “keunikan” dalam hal menjadi diri sendiri itu sudah dipegang, menjadi berbeda–walau seaneh apa pun–akan menjadi kunci bagi diri untuk mengembangkan potensi. Buktikan bahwa dalam posisi ini, kita akan menjadi sumber manfaat bagi orang lain.

Keunikan yang menjadi ciri khas kita secara alamiah mungkin akan membuat orang lain iri, seolah-olah kita akan menjadi sumber ancaman bagi keberhasilan orang lain. Seolah-olah kita adalah pesaing.

Namun, coba kita lihat dalam konsep yang lebih menyeluruh. Apabila setiap perempuan memfokuskan diri pada potensi masing-masing, maka pasti satu sama lain akan menjadi sumber manfaat bagi sesama. Bukan menjadi sumber ancaman.

Hanya orang-orang yang picik dan malas menggali potensi keunikan dirinya saja yang berpikir bahwa seseorang bisa menjadi sumber ancaman bagi orang lain.

3 Masalah Gigi yang Paling Sering Terjadi dan Bagaimana Mengatasinya

5. Jebakan Multitasking

Perempuan memang dianugerahi kemampuan multitasking. Inilah akhirnya membuat diri sendiri terjebak untuk merasa super dan mampu melakukan segalanya dengan hebat. Alhasil, kita pun kelelahan hingga kemudian menyerah.

BACA JUGA:  Kewalahan Mengatur Waktu? Coba Mulai dari 3 Hal Ini!

Bayangkan saja, dengan kemampuannya ber-multitasking, seorang perempuan bisa saja memasak sambil menggendong anak, bisa menelepon rekan bisnis sembari mengawasi anak-anak bermain. Atau mengetik beberapa tugas dalam satu waktu sambil merencanakan kegiatan bareng teman-teman.

Well, akuilah, bahwa kita sering bangga akan kemampuan kita ini.

Namun, sadarkah kamu, girls, bahwa multitasking cenderung akan membuat kita jadi nggak punya satu keahlian yang lebih dalam. Semua memang dapat dikerjakan dalam satu waktu, namun sekadar selesai. Lantas, kita pun jadi tak mampu menemukan di mana spesialisasi kita, yang menjadi penanda keunikan kita. Usaha kita untuk menjadi diri sendiri yang lebih unik pun menjadi lebih sulit.

Ya, karena bukan di situ letak sebuah kehebatan. Bukan ketika perempuan mampu melakukan semuanya dalam satu waktu, setelah itu duduk kelelahan. Jadi, jangan terjebak. Temukan potensi terkuat kamu yang menjadikanmu berbeda dengan yang lain.

Sampai di sini, kita seharusnya semakin yakin, bahwa perempuan sejati adalah mereka yang berani menjadi diri sendiri. Kamu juga berani kan, girls?

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: