7 Film Barat dan Film Indonesia Kontroversial karena Memuat Isu SARA

BICARAPEREMPUAN.COM – Film memang tak hanya bisa menjadi hiburan buat kita ya, girls, tapi bisa juga menjadi media penyampai pesan, terutama kalau lagi banyak isu yang terjadi di tengah masyarakat kita. Film bisa menjadi alat propaganda yang sangat efektif. Termasuk isu SARA. Beberapa film barat dan film Indonesia dicatat pernah menuai protes karenanya.

 

Berikut adalah beberapa film barat dan film Indonesia yang pernah bermasalah–bahkan dicekal–karena mengangkat isu SARA di dalamnya

1. ? (Tanda Tanya)

Film Indonesia besutan Hanung Bramantyo ini masuk ke genre drama dengan bintang Revalina S. Temat, Reza Rahadian, Agus Kuncoro, Endhita, Rio Dewanto, dan Hengky Solaiman.

Alkisah, ada 3 keluarga dengan agama berbeda; Islam, Katolik dan Buddha. Mereka harus melalui banyak hambatan hanya untuk sekadar hidup rukun dan damai.

Dijelaskan oleh Hanung Bramantyo, film ini memiliki misi untuk menghilangkan stereotype bahwa Islam itu radikal. Namun, tema pluralisme yang diangkat memang sangat sensitif, hingga mendapatkan protes keras dari MUI dan FPI.

Film sempat mendapatkan 9 nominasi Piala Citra di FFI 2011, dan memenangkan salah satu di antaranya.

 

2. Da Vinci Code

Diangkat dari novel berjudul karya Dan Brown, film barat ini cukup menghebohkan saat dirilis tahun 2006 yang lalu. Rekaan fiksi akan kisah hidup Yesus Kristus sempat mendapatkan protes oleh sebagian umat Katolik dunia.

BACA JUGA:  5 Film Hollywood dan Indonesia dengan Perempuan sebagai Tokoh Sentral Berkarakter Kuat

Berbagai ketidakakuratan ilmiah dan historis dari Gereja Katolik Roma menjadi masalah utama yang dikeluhkan

Tapi yah, novelnya berhasil best seller. Filmnya sendiri juga meraih box office hanya dalam minggu pertama pemutarannya. Sepertinya orang-orang memang suka nonton hal-hal yang supersensitif ya?

 

3. The Exorcist

Menurut BiPer, film ini masih megang banget sebagai film Barat horor terbaik sepanjang masa.

Film yang juga diangkat dari novel berjudul sama ini bercerita tentang seorang gadis muda yang kerasukan roh jahat, sedangkan sang ibu berusaha untuk membebaskannya.

Kontroversi muncul karena adanya kata-kata vulgar di beberapa adegan yang konon mendiskreditkan gereja. Apalagi The Exorcist yang versi pertama ini dirilis tahun 1973. Kata-kata vulgar seperti ini masih haram

 

4. Innocence of Muslims

Hmmm, bahkan ada peringatan dulu di Youtube untuk menonton film ini karena dikhawatirkan akan “menyinggung” sebagian orang.

Film pendek berdurasi 13 menit ini diunggah ke Youtube pada bulan Juli 2012, dengan judul The Real Life of Muhammad, dengan setting di Mesir.

BACA JUGA:  Review Film The Female Brain: Belajar Tentang Cinta dan Perasaan Wanita

Media seterkenal New York Times pun memberikan kritik keras terhadap film ini. Masalah lain lantas muncul. Para pemeran dan kru syuting film mengaku, bahwa film ini di-dubbing menjadi film anti-Islam begitu masuk ke proses editing, tanpa sepengetahuan mereka. Wah, berarti pihak produser dong yang harus bertanggung jawab ya, girls?

 

5. Cin(T)a

Film Indonesia ini sebenarnya punya aura romantis. Disutradarai oleh Sammaria Simanjutak, kisahnya adalah seputar percintaan dua orang yang berasal dari latar belakang berbeda, yaitu laki-laki keturunan Tionghoa dan perempuan Jawa.

Meski menuai kontroversi karena isu SARA yang diangkat, tapi Sally Anom Sari dan Sammaria Samanjuntak memenangkan Piala Citra untuk Skenario Asli Terbaik lo, girls!

 

6. Cinta tapi Beda

Lagi-lagi Hanung Bramantyo. Ia sepertinya memang gerah banget akan kondisi pluralisme di negara ini.

Cinta Tapi Beda adalah film Indonesia bergenre drama, dengan bintang Agni Pratistha, Reza Nangin, dan Choky Sitohang. Kisahnya (masih) tentang sepasang kekasih beda agama yang harus berjuang menghilangkan stereotype yang umumnya ada.

 

7. The Passion of the Christ

Film ini bersetting 12 jam terakhir dalam kehidupan Yesus di dunia. Disutradarai oleh Mel Gibson, film ini diprotes keras lantaran dianggap menyebarkan propaganda anti-Semit. Selain itu, para kritikus juga menyebutkan bahwa kekerasan ekstrem dalam film barat ini telah mengaburkan pesan aslinya.

BACA JUGA:  4 Film Bioskop Ini Mengangkat Kehidupan Mahasiswa dan Impian yang Harus Dikejar

Namun, film ini justru sukses besar dan menjadi film barat religius berpendapatan kotor tertinggi dalam sejarah, yaitu sebesar $612 juta. Wow!

So, girls, tema sensitif memang sangat bagus untuk diangkat dalam sebuah film. Semacam sudah menjadi formula untuk laris, lantaran berbagai kontroversi yang menyertainya.

Bagaimana denganmu, girls? Apakah kamu termasuk penyuka film barat ataupun film Indonesia jenis seperti ini?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.