9 Film Bioskop tentang Entrepreneur yang Wajib Tonton Bagi Para Calon Pebisnis Ulung

BICARAPEREMPUAN.COM – Merintis bisnis itu perlu kerja keras dan terkadang kita butuh hiburan untuk melepaskan ketegangan. Kenapa tidak sembari menikmati film bioskop, selain menghibur sekaligus juga kita bisa mencari inspirasi?

Buat kamu yang sedang merintis bisnis atau pengin menjadi seorang pebisnis ulung, coba deh tonton film bioskop berikut yang bertema soal entrepreneur ini.

 

9 Film bioskop tentang entrepreneurship

1. Willy Wonka and the Chocolate Factory (1971)

 

 

Willy Wonka adalah pengusaha cokelat dan permen populer yang memilih 5 anak beruntung untuk mengikuti tur ke dalam pabrik cokelatnya yang sangat rahasia. 4 dari 5 anak itu memiliki perilaku buruk, sedangkan 1 di antaranya adalah anak miskin yang manis dengan perilaku baik.

Ke-4 anak berperangai buruk tertimpa celaka sendiri karena ulah masing-masing, sedangkan Charlie si anak baik–selain sangat antusias–juga berhasil lolos dari tes kejujuran yang dibuat oleh Wonka. Akhirnya Charlie dipilih menjadi pewaris perusahaan Wonka.

Pesan moral dalam film : sulitnya mencari orang dengan kesamaan visi adalah hal paling menantang yang dihadapi oleh setiap entreprenur. Imajinasi dan passion memang cukup membuat seseorang menjadi sukses, tapi dibutuhkan etika juga untuk menciptakan bisnis yang baik.

 

2. Baby Boom (1987)

 


Seorang pengusaha bernama J.C Wiatt dan kekasihnya sama-sama lebih mencintai pekerjaan mereka ketimbang pasangan.

Suatu saat seorang kerabat jauh J.C meninggal dengan seorang bayi yang diwasiatkan agar dirawat olehnya. Saat mencoba memahami peran mengasuh anak, tanpa disadari mulai tumbuh perasaan cinta layaknya seorang ibu pada si anak.

Cerita kemudian berputar pada bagaimana J.C bekerja keras mengelola antara pekerjaan dengan anak asuhnya.

Film bioskop ini tentang bagaimana seorang corporate executive dengan gaji tinggi meninggalkan sengitnya persaingan dan memutuskan memulai bisnis baru di bidang winery dan pembuatan keju di tahun 1990. So, film ini ingin menunjukkan bahwa lebih baik menjadi pebisnis, dibandingkan berkutat dengan kehidupan corporate yang penuh tekanan.

 

3. The Social Network (2010)

 


Film bioskop ini berkisah tentang Mark Zuckerberg saat meluncurkan aplikasi media sosial dari asrama universitas Harvard tempatnya kuliah. Tujuan Mark saat itu adalah untuk mendapatkan kembali mantan pacarnya.

BACA JUGA:  7 Film Hollywood Terbaik Johnny Depp - A Must Watch List!

Tapi dengan dukungan dana dari sahabatnya, Eduardo Luiz Saverin, Facebook dalam waktu singkat digunakan oleh banyak orang. Ide Mark untuk mengembangkan aplikasi jejaring sosial ini memang sederhana.

The Social Network menggambarkan entrepreneurship di bidang internet yang dimulai dari kamar asrama kampus, hingga pada persoalan ‘coding bros’ dan penemunya yang sangat kurang tingkat kecerdasan emosionalnya. Hmmm, menarik.

 

4. It’s a Wonderful Life (1948)

 


Film bioskop klasik ini mengisahkan tentang George Bailey yang tumbuh di kota kecil Bedford Falls dengan mimpi berkeliling dunia.

Setelah kematian ayahnya secara tak terduga, Bailey terpaksa mengambil alih perusahaan keluarganya, Bailey Bros. Bailey menjalankan perusahaan the Building and Loan, dan menyelamatkan perusahaan itu dari rongrongan orang kikir di kotanya, Mr. Potter.

Selama bertahun-tahun Bailey menunda impiannya dan melanjutkan perusahaan demi membantu karyawannya memiliki rumah yang selama ini menyewa pada Potter. Namun, secara misterius uang di bank lenyap seluruhnya dan membuat Bailey mengalami depresi.

Muncullah Angel Clarence yang membantu George mengubah Bedford Falls.

Nonton film ini, kita jadi bisa mengerti pikiran George Bailey yang merasa bertanggung jawab sebagai seorang entrepreneur, girls. Dengan mendahulukan kepentingan orang lain, ia berhasil meraih sukses tak hanya dalam bisnis, tetapi juga dalam kehidupan.

 

5. Joy (2015)

 


Joy Mangano adalah seorang single mom dengan 2 orang anak, yang tinggal dengan kedua orang tuanya yang sudah bercerai, neneknya, dan mantan suaminya (yang menghabiskan hari-harinya berkaraoke di ruang basement rumahnya). Prospek masa depannya nampak suram, hingga suatu saat ia menemukan ide cemerlang pada alat pel bernama the Miracle Mop.

Dengan dukungan dari neneknya, dan sulitnya keuangan yang dialami, Joy terdorong untuk mewujudkan proyeknya menjadi kenyataan. Saat QVC memberi Joy kesempatan untuk mempromosikan alat buatannya secara on-air, produknya menjadi populer dan diminati banyak orang. Hingga saat ini Joy Mangano adalah multimiliuner yang memiliki ratusan paten atas namanya.

Well, sangat sedikit film bioskop tentang bisnis yang mampu menangkap rumitnya masalah seperti yang dihadapi Joy, termasuk perjuangannya untuk menambah unit produk secara tepat waktu. Di samping itu, cara Joy untuk mengelola bisnis sekaligus mengatur keluarga juga menarik banget untuk disimak, girls.

BACA JUGA:  5 Film Bioskop Tayang Mei yang Wajib Tonton!

 

6. Big Night (1996)

 

 

2 imigran asal Italia bernama Primo dan Secondo mendirikan restoran bersama. Primo saat itu menolak mengubah visinya dan menciptakan menu makanan Amerika yang sama sekali belum pernah didengar. Hasilnya restoran itu pun bangkrut.

Satu saat ia pun mendatangkan seorang musisi jazz terkenal untuk melejitkan restoran mereka. Kedua saudara tersebut bekerja keras menyajikan makan malam terbaik, meskipun ternyata sang musisi tidak pernah tampil malam itu.

Terlalu banyak pebisnis pemula gagal, seperti halnya Primo. Premisnya menarik, girls, bahwa kita tuh sebenarnya tak bisa menjual produk yang kita pikir laku, tanpa memikirkan apa yang sesungguhnya diinginkan oleh konsumen.

Film bioskop satu ini mengilustrasikan pentingnya berkompromi agar orang lain mau bekerja sama demi meraih sukses.

 

7. Jerry Maguire (1996)

 

 

Agent olahraga profesional Jerry Maguire dipecat. Namun, dia tak menyerah. Dia memutuskan untuk mendirikan agensi manajemen sport miliknya sendiri. Sayangnya, dia hanya mendapat satu klien, seorang pemain rugby yang masih labil.

Bersama Dorothy sebagai asistennya, Maguire harus berjuang keras membangun bisnisnya, mengalahkan keraguannya sendiri akan satu-satunya klien yang ia punya. Tak disangka ia berhasil mencapai sukses dengan cara menempatkan kebutuhan kliennya terlebih dahulu dibandingkan uang.

Perjuangan keras karena keyakinan bahwa membangun usaha sendiri lebih baik dibandingkan perusahaan tempat dulu bekerja adalah cerita klasik para pendiri perusahaan startup, girls. Hal ini memang bisa menakutkan, makanya yang benar-benar dibutuhkan adalah semangat dan tekad kuat saat memulainya.

 

8. Tommy Boy (1995)

 


Seorang pria baik namun pendiam, Tommy Callahan, diberi jabatan di perusahaan ayahnya yang bergerak di bidang spare part otomotif.

Ketika ayahnya meninggal akibat serangan jantung, bank mengancam untuk menarik pinjamannya. Ibu tiri Tommy dan adik tirinya ingin menjual perusahaan itu untuk membayar utang pada bank. Namun, Tommy menemukan cara agar karyawan pabriknya tetap dapat bekerja dan menyelamatkan bisnis ayahnya.

BACA JUGA:  Ini Dia 7 Film Bertema Natal yang Selalu Dinantikan Setiap Tahun

Film ini menggambarkan kisah realistis tentang dekatnya hubungan antara bos dengan karyawan di berbagai bisnis kecil, dan nyatanya persahabatan itu dapat memperkuat bisnis. So, untuk mengelola bisnis supaya sukses, kamu tak hanya harus pandai dalam manajemen, tetapi juga perlu mempunyai empati terhadap partner ataupun karyawan dan EQ yang baik, girls.

 

9. The Intern (2015)

 

 

Jules Ostin mempekerjakan seorang pekerja magang berusia 70 tahun bernama Ben Whittaker. Pada mulanya Ostin berpikir, Whittaker adalah orang yang tidak berguna. Namun, Ben yang sangat sigap dan bijak belajar dengan cepat, dan akrab juga dengan cepat dengan sesama karyawan lain. Ben bahkan memberikan saran tentang cara menjalankan bisnis yang dibutuhkan oleh Ostin.

Ostin mendapati suaminya berselingkuh, dan di saat yang sama, investor baru ingin perusahaannya juga diatur oleh CEO baru. Putus asa dengan segala permasalahan sekaligus ingin lebih banyak meluangkan waktu bersama keluarga dan menyelamatkan pernikahanya, Ostin pun sepakat untuk mundur. Tapi Ben mengajarinya bagaimana agar tidak mengorbankan bisnis yang ia bangun dan besarkan dengan penuh cinta, dan semestinya ia juga layak memiliki pernikahan yang bahagia.

The intern mengeksplorasi stereotipe dalam bisnis, terkait usia, gender, Silicon Valey dan komedi romantis dengan segar. Selain itu, film bioskop satu ini juga menggambarkan tentang seorang perempuan yang penuh gairah dalam menjalani usahanya. Hmmm, kita banget kan, girls?

 

Nah, watchlist film bioskop kamu makin lengkap kan dengan daftar di atas! Saatnya menghabiskan akhir pekan besok dengan marathon film, sekaligus belajar bagaimana mengelola bisnis dengan baik.

Selamat nonton!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.