Karakter

6 Tahap untuk Mempertahankan Jati Diri agar Selalu Bisa Menjadi Diri Sendiri

Tahu nggak, girls? Bahwa seiring bertambahnya usia, jati diri seseorang itu bisa saja berubah.

BICARAPEREMPUAN.COM – Itu benar sekali. Tapi, kok bisa ya?

Contoh nih. Pernah nggak kamu bertemu seorang teman lama dan kaget karena dia kini begitu berbeda? Hal yang begini bisa banyak kita temui kalau pas reunian kayaknya ya.

Nia yang dulu anteng, ternyata sekarang begitu aktif dan penampilannya pun seksi. Budi yang dulu begitu hidup kalau lagi debat kelas, sekarang kenapa begitu malu-malu? Indah yang dulu ceria, kini terlihat sangat serius.

Apa yang bisa menyebabkan mereka semua berubah?

Perjalanan hidup, girls. Kadang situasi dan kondisilah yang menyebabkannya. Misalnya, Nia jadi aktif dan seksi ya karena sekarang dia sudah jadi artis penyanyi dangdut. Budi, ternyata menyimpan rasa tak puas terhadap gaji dan penghargaan dari kantornya. Indah yang bersuamikan pejabat, tentu harus lebih jaim.

Iya, nggak cuma umur dan berat badan yang bisa berubah saat reunian tiba. Karakter dan jati diri pun juga bisa berubah. Di masa pubertas, teman dan lingkungan (baik sekolah maupun rumah) merupakan dua faktor yang paling berpengaruh. Sedangkan bagi yang lebih dewasa, biasanya kondisi keluarga baru yang dibentuk maupun pekerjaannyalah yang membuatnya berubah.

Ah, sepertinya memang pekerjaan sih yang paling banyak membuat kita jadi berubah ya, girls.

Bagaimana enggak? Rata-rata dari kita harus bekerja di kantor 8 jam per hari. Itu secara teoretis. Praktiknya? Ya, lebih. Kalau lembur. Bahkan kepala kita sudah penuh dengan hal-hal ang berhubungan dengan kerjaan sebelum kita sampai di kantor. Saat pulang pun, pasti juga ada yang terbawa sampai di rumah. Liburan? Kadang juga masih disempatkan membuka email, atau sekadar ngecek WhatsApp, siapa tahu ada yang urgent.

Alhasil, kita tak pernah lepas dari urusan kerjaan. Hingga akhirnya, nggak cuma menyita waktu, pekerjaan pun mengubah isi lemari, gaya bicara, pemikiran, sampai ke pola pikir dan karakter.

Terus, gimana dong? Apakah berarti kita harus berhenti bekerja, supaya jati diri kita nggak berubah? Wah, ya jangan. Berhenti bekerja sih bukan solusi.

Well, agar kita tetap dapat menjaga jati diri kita dan juga karakter asli kita, berikut beberapa tahap yang harus kita lakukan.

6 Tahap untuk Mempertahankan Jati Diri agar Selalu Bisa Menjadi Diri Sendiri

1. Jujur pada diri sendiri

Biasanya seseorang akan ngerasa sendiri sih kalau dirinya berubah. Apalagi kalau perubahan itu bertentangan dengan jati diri sebelumnya.

BACA JUGA:  Dijauhi Teman? That's Painful! 7 Kemungkinan Alasan dan Apa yang Harus Dilakukan?

Tapi kadang kita juga lantas mengingkarinya. Nah, kalau keseringan mengingkari, perasaan peka terhadap perubahan pada diri sendiri itu bisa saja menjadi tumpul.

Jadi, kalau memang kamu merasa bahwa ada sesuatu yang berubah dalam dirimu, jangan diabaikan dan jangan diingkari. Untuk lebih memastikan, coba tanyakan pada orang terdekat, keluarga atau sahabatmu. Apakah menurut mereka kamu sekarang lebih agresif, arogan, sok tahu, dominan, pemurung, atau cepat tersinggung?

Jika jawaban dari orang terdekatmu saja sudah semakin menguatkan bahwa ada perubahan ke arah yang semakin jauh dari jati diri kamu sebelumnya, berarti sekarang saatnya untuk bertindak agar tak semakin memburuk.

2. Kompromi

Mengapa jati diri kita bisa berubah?

Pertanyaan di atas merupakan pertanyaan selanjutnya yang harus kamu tanyakan pada diri sendiri. Nilai apa saja yang hilang dari dirimu?

Bingung, bagaimana melakukan introspeksi seperti ini? Mari kita lihat contoh berikut ini.

Situasi 1: Saat nilai pribadi kamu bertentangan dengan kepentingan perusahaan.

Contoh saja, kamu saat ini menjabat sebagai kepala bagian HRD, dan bos kamu telah memutuskan bahwa jam lembur tidak akan dibayar demi pengetatan cash flow.

Tapi kondisi kemudian mengharuskan beberapa karyawan tetap lembur demi mencapai target perusahaan. Kamu bisa melakukan evaluasi, dan kemudian membenahi apa yang perlu dibenahi. Misalnya, mencari penyebab mengapa karyawan harus lembur, dan kemudian membuat perencanaan untuk mengatasinya dan meminimalisir jam lembur. Pengefektifan jam kerja, misalnya.

Kurangi pula tekanan pada hal lain. Tutup saja matamu saat kamu melihat karyawan lain datang terlambat, sejauh dia bisa mencapai target hariannya. Atau memberikan kelonggaran izin bagi karyawan demi kepentingan keluarganya. Dengan demikian, nilai pribadimu tetap terjaga, begitu pun semangat kerja karyawan.

Situasi 2: Saat pencarian solusi kamu berbeda dengan bos

Ada kalanya saat menemui masalah, dan saat mencari solusi, kamu punya cara pandang yang berbeda dengan bos. Duh, gimana ini ya?

Yang bisa kamu lakukan kemudian adalah melakukan perlawanan aktif. Misalnya, karena satu hal, bos memutuskan akan langsung memecat karyawan yang tak juga menampakkan kemajuan kinerja dalam 3 bulan, karena dianggap menghambat kinerja secara keseluruhan.

Kamu merasa bukan begitu caranya membangun performa karyawan. Bagaimanapun harus dicari mengapa mereka tak bisa berkembang di perusahaan tersebut. Mungkin kamu bisa melakukan rotasi posisi karyawan lebih dulu? Atau memberikan kesempatan pada mereka untuk menambah keterampilan dengan kursus?

BACA JUGA:  Mau Jadi Lebih Baik? Yuk, Belajar dari Para Motivator Dunia Berikut!

Saat semua usaha sudah dilakukan secara konsisten, dengan perbaikan dan peningkatan skill karyawan, maka bos akan dapat melihat, bahwa pemecatan bukanlah keputusan yang mutlak.

Situasi 3: atmosfer yang tak nyaman

Bos yang nggak mau tahu alasan apa pun, waktu kerja yang lembur melulu, rekan kerja yang nggak ramah, sampai bawahan yang nggak becus kerja. Semua kamua keluhkan setiap hari tiada henti.

Kalau ini terjadi, maka kamu perlu melakukan batasan pada diri sendiri.
Bos kamu toh hanyalah bos di kantor, bukan dalam kehidupanmu sepenuhnya. Rekan kerja yang nggak ramah, kurangi saja untuk berinteraksi langsung dengannya. Secukupnya, dan sebatas kerjaan doang. Bawahan yang nggak becus kerja, ya kalau memang mereka sepintar kamu, mereka akan jadi pemimpin sepertimu kan?

Intinya, kurangi saja semua hal yang membuatmu sebal. Lagi pula, kita nggak bisa selalu membuat semua orang puas, girls You can’t please everyone! So, biarkan pula orang lain juga sebal sesekali dengan kamu. You can’t wish everyone is perfect, neither you can’t be perfect.

Saat kamu sudah pasrah begini, percaya deh, mempertahankan jati diri pasti akan lebih mudah.

3. Take a break

Beri waktu bagi dirimu sendiri untuk menarik napas sejenak.

Saat makan siang, menyingkirlah sejenak dari keriuhan kantor. Kamu bisa mencari makan siang yang agak jauh sedikit dari kantor, supaya nggak ketemu lagi dengan orang-orang yang sama. Berdiam dirilah sejenak, turunkan panas di kepala. Nikmati makan siangmu dengan santai dan perlahan.

Saat pulang dari kantor, it’s time to shut down completely dari urusan kantor. Lekas mandi, ganti baju, lalu lakukan apa pun yang kamu mau. Tertawalah lepas sembari nonton komedi. Atau berteriaklah saat nonton film horor.

Lampiaskan stres kamu.

4. Lakukan kegiatan spontan

Kapan terakhir kali kamu melakukan hobimu, girls? Kalau jawabannya sudah bertahun-tahun yang lalu … hmmm … berarti ada baiknya sekarang kamu mulai mempertimbangkan untuk melakukannya lagi.

Lakukan aktivitas di luar urusan kantor. Tekuni hobimu. Perluas jaringan pertemananmu. Selami dunia dari berbagai sisi yang berbeda. Lakukan hal-hal baik di luar kantor.

Jika kamu berhasil melakukan keseimbangan antara kehidupan di dalam dan di luar kantor, maka hidupmu nggak akan selalu didominasi oleh pekerjaan. Dan kamu pun akan sadar, bahwa masih ada hal-hal yang lebih penting, lebih indah, lebih sukses, lebih berisi, dan lebih berwawasan ketimbang kehidupan di kantor.

BACA JUGA:  Perempuan Masa Kini Akan Selalu Melakukan 13 Hal Ini

5. Kontrol

Nggak cuma urusan kantor, kamu juga harus mengontrol diri kamu sendiri. Secara berkala, jangan lupa untuk menanyakan pada dirimu sendiri demi jati diri yang harus dipertahankan, inikah yang saya inginkan dalam hidup? Beginikah jati diri saya yang paling nyaman?

Pasti ada di mana mood kamu begitu rendah ya, karena pressure di kantor yang tinggi setiap hari. It’s ok, girls. Pastikan saja juga, bahwa begitu kamu keluar dari gedung kantor, kamu kembali berubah menjadi diri sendiri.

Dan harap dicatat ya, girls, jangan mengharapkan orang-orang terdekatmu untuk bisa membantu mengembalikan ataupun mempertahankan jati diri kamu. Because noone can, but yourself.

6. Keep moving!

Memang tak semua perubahan jati diri itu ke arah negatif sih. Ada pula situasi kantor yang mampu membuat kamu lebih baik. Bersyukurlah, jika kamu telah berada di perusahaan yang mampu membuat nilai tambah pada dirimu sendiri.

Ingat pula, bahwa kamu nggak hidup di masa lalu. Kamu hidup di masa kini, dan untuk masa depan. So, keep moving!

Barangkali memang kamu ingin tak se-‘cablak’ dulu. Kamu juga tak ingin se-sembrono dulu. Ada dorongan dari dalam hati, bahwa kamu harus lebih menjaga diri dengan jalan menjadi pribadi yang lain.

Hal tersebut sah saja. Tak perlu pedulikan orang lain, jika memang kamu ingin berubah selama itu baik untukmu. Jadi, biarkan saja komentar orang yang dilontarkan, “Kok kamu beda sih sekarang?”

Semua memang berada di tanganmu sendiri. Pekerjaan memang penting, namun kehidupanmu sepenuhnya juga sangat penting. Jangan menjadi orang asing yang sama sekali tak kamu kenali, hidup dalam diri sendiri.

Selamat menyelami diri sendiri, girls!

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: