Buku

Review Buku: Aku Kopi dan Kamera

Judul: Aku, Kopi, dan Kamera
Penulis: Ainun Nufus
Editor: Mutiara Arum
Proof Reader: Herlina P. Dewi
Desain Cover: Teguh Santosa
Layout Isi: Arya Zendi
Tebal: v + 165 halaman
ISBN: 978-602-336-434-3
Penerbit: Stiletto Book

 

Review Buku: Aku Kopi dan Kamera

 

Blurb Aku Kopi dan Kamera

Aku, Latte. Cewek 21 tahun yang tak suka mencari rindu. Karena tanpa rindu, aku tetap mencintaimu.

Aku, Reon. Cowok 22 tahun yang memeluk jarak demi mencari rindu. Agar cinta yang kumiliki tak pudar dari hati, dan tetap ada untukmu.

Aku, Genta. Cowok 22 tahun yang mencari gadis penikmat kopi. Karena cinta pada pandangan pertama sudah menjeratku pertama kali.

Kisah antara rindu dan nyamannya kebersamaan, hingga masing-masing sulit mengartikannya. Mereka sibuk mencari rindu, sibuk mencintai, dan sibuk menyenangkan hati orang lain, hingga lupa bahwa indahnya cinta hanya butuh mengakui: bahwa dirinya telah jatuh hati.

 

Review Novel Aku Kopi dan Kamera

Latte, si cewek posesif itu, akhirnya hanya bisa menerima nasibnya diputusin oleh pacar, Reon. Reon merasa, Latte terlalu “ada” untuknya. Ke mana ia pergi Latte selalu ada. Mau ngapain aja, selalu ada Latte. Latte, dan Latte di setiap harinya.

Reon gerah. Sepertinya ia sih pengin punya ruang gerak sendiri. Ya masa sih, ke mana-mana dikintilin melulu oleh Latte? Seorang cowok pastilah pengin bebas juga, punya waktu untuk dirinya sendiri atau sekadar hangout dengan teman-teman sesama cowoknya.

BACA JUGA:  Review Novel: Seira & Tongkat Lumimuut

Karena itu, Reon pengin break dari Latte. Tapi, Reon sebenarnya tak serta merta minta putus sih. Ia hanya minta ‘break’, ia hanya butuh ruang.

Tapi, Latte terlanjur patah hati.

Saat itulah, ada Genta. Cowok hobi fotografi, yang suka nongkrong di kedai yang juga menjadi favorit Latte. Berawal dari mencuri foto Latte, mereka pun berkenalan lebih jauh.

Tapi, Latte masih sakit hati. Dan, Genta hanya bisa menawarkan persahabatan, yang kemudian menjebak dirinya sendiri dalam friendzone.

Sedangkan Reon? Sepertinya ia lantas menyesal pernah melepas Latte. Nah loh.

 

Kisah yang Sangat Related dengan Kehidupan Anak Millenial Zaman Now

Aku Kopi dan Kamera

 

Novel ini berisi kisah yang kamu banget, girls. Konflik-konflik yang ada begitu related dengan permasalahan anak muda zaman sekarang; pacaran, ke mana-mana berdua, lalu bosen, minta break (tapi nggak berani bilang putus dengan jelas). Ada juga si jomblo¬†yang lalu jatuh cinta pada teman sendiri, tapi terjebak friendzone, terus … Galau.

Di samping cecintaan, di sini juga banyak cerita yg related sama para millenial: nongkrong di kafe, ngopi-ngopi, terus foto-foto, dan unggah Instagram. Ada pula tokoh yang jadi selebgram, dikirimin barang-barang endorse-an.

BACA JUGA:  Review Buku: Entrepreneur Talks - Tujuh Strategi Mengembangkan Bisnis

See? Kamu banget kan?

 

Novel yang Mengajak Kamu Menyelami Perasaan Masing-Masing Tokoh

Uniknya lagi, novel ini ditulis dari 3 sudut pandang yang berbeda; sudut pandang Latte, sudut pandang Reon, dan sudut pandang Genta. Ketiganya akan berganti-ganti memenuhi ruang bacamu, di setiap pergantian bab. Kamu akan diajak untuk menyelami perasaan masing-masing tokoh, dan sang tokoh akan membuatmu terpaksa memahami apa yang menjadi pemikiran mereka.

Kamu akan mengerti, mengapa Latte itu posesif. Kamu akan mengerti, mengapa Reon begitu gerah saat masih pacaran sama Latte, tapi kamu pasti juga akan merasakan betapa sepinya hidup Reon setelah Latte pergi. Pun, kamu akan mengerti, mengapa Genta tak berani melangkah sedikit pun dari zona temenan dengan Latte.

 

“Kupikir jadi temanmu cukup. Nyatanya sifat manusia itu tak pernah mudah merasa cukup, begitu pun aku. Bagaimanapun aku mengendalikan perasaanku agar hubungan kita selalu baik, nyatanya aku malah sering membuatmu marah. Aku nggak bisa janji apakah setelah ini aku bisa bersikap biasa-biasa saja padamu karena aku tak bisa menahan lagi. Aku cinta kamu.” (hal. 145)

 

Barangkali hal yang sama sedang kamu alami sekarang, hm? Bisa jadi.

Setting-nya yang di Jogja juga akan menambah rasa kangen dan nostalgiamu jika kamu pernah punya kisah atau pernah mengunjungi kota yang indah itu. Kamu akan diajak mengunjungi satu per satu kedai kopi kekinian yang kini sedang begitu menjamur di seluruh sudut kota Yogyakarta.

BACA JUGA:  7 Rekomendasi Novel Bicara Perempuan untuk Bulan Februari 2018

Well, bisa jadi sih next time kamu mengunjungi Yogyakarta, kamu bisa juga menapak tilas perjalanan Latte – Genta selayaknya Cinta – Rangga di Ada Apa dengan Cinta 2. Hmmm, sounds tempting!

Novel Aku Kopi dan Kamera akan memberimu rasa seperti kopi. Pahit seperti hidup, tapi selalu ada sela-sela rasa manis jika ada sesendok gula (cinta) yang berkelindan rasa.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: