Film

Review Film The Female Brain: Belajar Tentang Cinta dan Perasaan Wanita

The Female Brain

The Female Brain

 

Judul: The Female Brain
Pemain: Whitney Cummings, Sofia Vergara, Blake Griffin, Deon Cole, Lucy Punch, James Marsden, Cecily Strong
Sutradara: Whitney Cummings
Screenplay: Whitney Cummings, Neal Brennan
Produksi: Black Bicycle Entertainment, Night and Day Pictures
Tahun produksi: 2017

 

Alur cerita

Alkisah dr. Julia Brizendine adalah seorang peneliti sekaligus dokter syaraf. Dalam penelitiannya, ia mempelajari otak dan dalam hubungannya dengan perilaku manusia–terutama perempuan.

Ada tiga pasangan yang menjadi objek penelitian Julia.

The Female Brains - Lisa dan Steven. Image via Youtube

The Female Brain – Lisa dan Steven. Image via Youtube

Pasangan pertama, Lisa dan Steven, sepasang suami istri berusia matang. Mereka sudah lama menikah, sudah punya anak satu. Seiring waktu mereka merasakan pernikahannya semakin hambar. Steven menyebut pernikahan itu sebagai usaha untuk membayar telepon bersama. Mereka sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menghangatkan kembali hubungan mereka sebagai suami istri, tapi tak berhasil. Hingga akhirnya, keduanya sepakat bercerai. Mereka kira 12 tahun hidup bersama mungkin memang sudah cukup. 12 tahun yang penuh damai, tanpa konflik, itu ternyata dengan mudah diputuskan melalui kata cerai. Kenyataan itu–meski mereka bercerai secara baik-baik, tanpa konflik, bahkan anaknya pun bilang, “Cool!”–sungguh ironis.

The Female Brains - Zoe dan Greg. Image via Freep

The Female Brain – Zoe dan Greg. Image via Freep

Pasangan kedua, Zoe dan Greg, pasangan suami istri yang baru menikah selama setahun. Zoe adalah seorang perempuan karier, bekerja di sebuah perusahaan marketing agency. Greg adalah seorang pebasket kaya. Keduanya berjuang untuk status sebagai seorang istri (Zoe diminta Greg untuk keluar dari pekerjaannya, tapi menolak karena Zoe merasa passionnya adalah seorang career woman) dan suami (Greg merasa harus membuktikan diri pada Zoe bahwa ia adalah seorang suami yang tangguh, dibuktikan dengan ingin membongkar dan merenovasi sendiri kamar mandinya). Namun sebenarnya Zoe tak bahagia dengan pekerjaannya. Bosnya seksis, dan ia tak pernah nyaman kalau berinteraksi dengan rekan-rekan kerjanya. Sedangkan Greg–meski mati-matian membuktikan diri kalau ia bisa merenovasi kamar mandi–ia ternyata juga gagal. Keduanya lantas berekonsiliasi kembali untuk kepentingan bersama. Zoe memulai bisnis barunya, Greg juga kembali ke “keahlian”-nya main basket saja.

BACA JUGA:  Film Bioskop yang Akan Membuatmu Melted Sampai Nangis Bombay

 

The Female Brain – Adam (Lexinya nggak ketemu). Image via Filmovizija

Pasangan ketiga, Lexi dan Adam, hidup bersama tapi belum menikah. Lexi adalah seorang control freak, ia berusaha “mengubah” Adam, terutama penampilannya. Adam sendiri sebenarnya easy going, dan sosok pria yang apa adanya. Cuma ya karena Lexi menuntut ini itu, Adam berusaha menyenangkan hati Lexi. Adam meluruskan rambut keritingnya karena disuruh Lexi, meski kemudian ia membenci rambut barunya, dan sebagainya. Hingga kemudian suatu saat, Lexi memohon pada Adam untuk diperbolehkan memencet jerawat yang ada di punggung Adam. Bisa sih dipencet, tapi setelah Adam memeriksakan diri ke dokter, ternyata yang dikira jerawat itu adalah tumor. Adam marah karena Lexi terlalu pushy dan selalu menuntut macam-macam, hingga ia putusin Lexi.

Lain cerita dengan Julia sendiri. Sementara cerita tiga pasangan di atas bergulir di sepanjang film, Julia ternyata juga punya konflik sendiri dengan seorang pria.

 

The Female Brain – Julia dan Kevin. Image via Hollywood Reporter

Pria ini–Kevin–datang ke laboratorium Julia, untuk menjadi objek penelitian. Selama Kevin diteliti, Julia digoda terus oleh asistennya, Abby. Abby bilang, Kevin baik dan so cute. Kenapa Julia nggak mencoba untuk ngedate dengan Kevin?

BACA JUGA:  5 Film Bioskop Tayang Juni 2018 yang Mesti Banget Kamu Tonton

Well, Julia melakukan penelitiannya untuk mempelajari reaksi otak dan hubungannya dengan emosi dan perilaku manusia. Ia menganggap perempuan butuh laki-laki untuk “mengaktivasi” hormon-hormon yang menciptakan reaksi kimia dalam tubuh, yang kemudian memicu emosi dan perilaku.

Karena selama ini ia sudah melakukan semua kegiatan yang–menurut ilmu yang dipelajarinya–bisa memicu otak memproduksi hormon-hormon yang sesuai untuk dirinya, maka Julia menganggap ia tak butuh laki-laki. Ia telah mengatur semuanya sedemikian rupa sehingga hormon dalam tubuhnya seimbang dan terpenuhi.

Singkat kata, ia tak butuh cinta.

Namun Julia kecele. Kevin ini lain. Sewaktu ia diteliti Julia memang menemukan bahwa Kevin ini memang kurang banget rasa empatinya, tapi begitu mereka berinteraksi di luar laboratorium, Kevin ini bisa mengimbangi Julia mengenai rasa skeptisnya terhadap perasaan. Julia pikir semua bisa dijelaskan secara ilmiah, termasuk rasa cinta.

Tapi Kevin membuktikan bahwa pendapat Julia salah.

 

Review

Film ini memang punya empat alur cerita yang bergulir paralel. Tiga pasangan suami istri, masing-masing dengan konflik dan perjuangannya sendiri-sendiri, dan kisah Julia dengan penelitiannya dan konfliknya dengan Kevin.

Dari awal hingga pertengahan film, BiPer memang merasa agak kesulitan mengikuti jalan ceritanya yang agak cepat. Ditambah lagi dengan berbagai istilah kedokteran dan kesehatan, yang meski kadang sudah pernah didengar, tapi karena masih asing ya jadi agak nggak paham juga.

BACA JUGA:  4 Film Bioskop Ini Mengangkat Kehidupan Mahasiswa dan Impian yang Harus Dikejar

Tapi, overall, BiPer suka banget dengan makna dan pesan yang disampaikan oleh film ini. Baru tahu juga kalau film ini ternyata diadaptasi dari buku yang berjudul sama, yang merupakan hasil penelitian Louann Brizendine.

Apakah kisah Julia ini adalah kisah Louann juga? Entahlah.

Jargon “wanita itu rumit” seketika runtuh begitu kita menonton film ini, karena semuanya bisa dijelaskan secara ilmiah, girls. Dan–surprise! Ternyata para pria itu juga sama rumitnya! Dan itu juga dijelaskan secara ilmiah dalam film ini.

Perempuan dan laki-laki itu sama-sama punya otak yang bekerja, hanya ada perbedaan sedikit dari caranya bekerja. Dari film The Female Brain ini kita jadi mengerti dan paham, mengapa cinta itu mesti dipupuk karena cinta yang menjadi rutinitas itu bisa kering karena zat-zat kimia yang ada dalam otak juga akhirnya berhenti bekerja kalau nggak distimulasi.

Kita juga paham, kenapa perempuan dan laki-laki itu cenderung pengin membuktikan dirinya masing-masing satu sama lain. Kita juga akan mengerti, bahwa cinta itu kalau dipaksa-paksa yang ada ya malah sebal, karena zat-zat kimia itu terproduksi karena ada rangsangan. Kalau rangsangannya buruk, ya zat kimia yang keluar juga bukan zat yang baik.

Kamu akan dapat pelajaran banyak dari film The Female Brain ini, girls.

Recommended!

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: