Review Novel: Seira & Tongkat Lumimuut

Judul: Seira & Tongkat Lumimuut
Penulis: Anastasye Natanel
Editor: Irna Permanasari
Desain sampul: Sukutangan
Tebal: 248 halaman
ISBN: 9786020387673
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

 

Review novel Seira & Tongkat Lumimuut

Blurb

Begitu sembuh dari sakitnya, Seira merasakan perubahan pada dirinya. Dia mendapati ada sesuatu yang lain dalam dirinya sejak bertemu perempuan aneh dalam dirinya.

Menjadi sehat secara mendadak dan kemunculan orang-orang asing di sekitarnya menjadi awal perubahan besar dalam hidupnya: pertama, dua anak kembar di kampusnya, Mikaela dan Manasye, yang tiba-tiba menjadi sahabatnya; kedua, Siow Kurur, laki-laki tampan yang mengaku sebagai pelindungnya; ketiga, kumpulan orang yang mengenakan ala penari Kabasaran yang datang memburunya.

Bukan hanya itu, Papa juga tampak bersikap aneh. Bahkan Giddy, teman kecil Seira yang ia kenal luar-dalam, rupanya menyembunyikan rahasia besar darinya.

Hidup Seira telah berubah, ia bukan lagi manusia biasa.

 

Alur cerita novel Seira & Tongkat Lumimuut

 

Review novel Seira & Tongkat Lumimuut
Review novel Seira & Tongkat Lumimuut

Hidup Seira seketika berubah. Dia yang tadinya bukan siapa-siapa tiba-tiba saja menjelma menjadi seseorang yang penting–yang bahkan harus dikawal dan dilindungi sepanjang waktu. Dia yang tadinya sakit-sakitan tiba-tiba saja badannya menjadi sehat luar biasa. Matanya yang minus tiba-tiba sembuh dan normal.

Semua itu terjadi setelah Seira pulang dari mendaki gunung–bersama Gideon atau Giddy, teman masa kecilnya–dan jatuh sakit. Ia mengira dirinya kelelahan karena mendaki gunung.Tapi, siapa yang tahu pasti? Karena setelah dari gunung tersebut, ia selalu memimpikan tentang seorang perempuan yang meleburkan diriya menjadi satu dengan tubuh Seira.

Hidup Seira makin rumit dengan kehadiran Mikhaela dan Manasye, si kembar mahasiswa baru yang cantik di kampusnya yang entah datang dari mana. Sekonyong-konyong saja mereka ada di kampus, dan memproklamirkan diri sebagai sahabat Seira. Padahal Seira ini termasuk anak penyendiri dan introver. Dia agaknya jenis perempuan canggung yang tak punya banyak teman. Lalu tiba-tiba dua perempuan kembar itu menempel terus padanya bak perangko.

BACA JUGA:  Review Novel: Aku Bukan Dia

Lalu muncul pula seorang pemuda tampan berambut kelabu yang bisa membaca pikiran Seira, bernama Siow Kurur. Ganteng sih, tapi bisa telepati. Hiy! Malah bikin ngeri. Betul nggak sih, girls? Kebayang nggak, kalau pacarmu selalu bisa tahu apa yang kamu pikirkan bahkan tanpa kamu mengatakannya sama sekali? BiPer bilang sih, creepy!

Dan, kemudian, bersiaplah dengan berbagai keriuhan yang mengikuti cerita hidup Seira kemudian: dikejar gerombolan waranei, bertemu dengan Opo Lokon yang minum teh layaknya para aristokrat, dan juga makan siang bersama Karema, si pendeta wanita yang menciptakan Toar dan Lumimuut, yang punya rumah minimalis berperabotan dari emas, meracik salad daging dari bahan-bahan yang dipesannya di olshop bahan-bahan organik, dan suka dengan lagu Havana-nya Camila Cabello.

Sungguh novel yang menarik.

 

Review Novel Seira & Tongkat Lumimuut

Sejauh ini, dongeng kerakyatan yang sering diangkat sepertinya sebagian besar berasal dari belahan bumi barat Indonesia. Betul nggak, girls? Terutama untuk kamu yang hidup di belahan Indonesia bagian barat, pasti sudah sering mendengar legenda Malin Kundang, Sangkuriang, Asal Mula Danau Toba, Bandung Bondowoso, dan sebagainya.

Pasti tak banyak cerita dan legenda dari sisi timur Indonesia yang pernah kita dengar ya?

Seira seakan “menyeret” kita ke dunia baru. Dunia yang ada di belahan bumi timur Indonesia yang tak terlalu banyak terekspos, utamanya Minahasa. Beneran deh, BiPer belum pernah sama sekali mendengar mengenai legenda Toar dan Lumimuut ini. Membaca kisah Seira akhirnya “memaksa” BiPer untuk sesekali googling mencari tahu cerita legenda yang sebenarnya.

BACA JUGA:  7 Rekomendasi Novel Bicara Perempuan untuk Bulan Februari 2018

Tentu saja ini hal bagus. Bikin kita menambah pengetahuan, bahwa banyak hal dan cerita eksotis yang masih tersembunyi dan harus diperkenalkan pada lebih banyak orang. Legenda Toar dan Lumimuut bisa jadi baru pertama kita dengar, tetapi dengan ulikan si penulis terhadap cerita aslinya, mengemasnya dalam bentuk cerita modern, dengan setting yang juga kekinian, membuat cerita ini menjadi related dengan anak muda sekarang.

Hanya saja, BiPer agak merasa keteteran dengan berbagai istilah asing yang bertebaran di sepanjang novel. ‘Asing’ bukan berarti berasal dari bahasa asing, melainkan merupakan istilah-istilah Minahasa, yang memang maknanya tidak disediakan langsung dalam catatan kaki. BiPer harus mencari sendiri makna istilah-istilah ini yang penjelasannya diselipkan dalam narasi. Hal ini membuat BiPer agak kesulitan mengingat, karena saat istilah yang satu sedang disarikan maknanya, eh, sudah datang lagi istilah asing lain yang menjadi teka-teki berikut yang harus dipecahkan sendiri oleh BiPer. Padahal konflik datang bertubi-tubi, yang karena kemahiran penulisnya membuat BiPer jadi merasa ikut stres bersama Seira.

Novel ini sangat page turning, satu halaman selesai dibaca kita akan langsung membalik halaman berikutnya. Salah satu kesulitan terbesar dalam penyusunan novel fantasi adalah world building, pembangunan dunia fantasi yang tak pernah ada menjadi seakan nyata. Hal ini berpengaruh banget pada cerita. World building yang lemah akan mengaburkan narasi. World building yang lemah akan mengacaukan plot cerita.

BACA JUGA:  7 Rekomendasi Buku untuk Bulan Juli 2018 versi Bicara Perempuan

Dalam Seira & Tongkat Lumimuut, Anastasye berhasil melakukan world building ini dengan cukup sukses, sehingga legenda ini bisa “nyemplung” dan berkelindan dengan kehidupan kekinian yang serba modern.

Sungguh nekat memang, mendekonstruksi legenda rakyat hingga sebegitu rupa, tapi berusaha supaya tak ada tendensi pelecehan. Anastasye sendiri menyebutkan dalam halaman pembukanya, “Jika ada hal-hal yang dianggap menyimpang, tidak ada maksud dari penulis untuk melakukan pelecehan atau penghinaan terhadap cerita Toar dan Lumimuut ataupun para tokoh lainnya.”

Tidak ada. Tidak ada pelecehan itu. Justru pembaca yang cerdas menjadi penasaran akan legenda yang sebenarnya, dan mungkin akan mencari legenda Minahasa lain yang sama menariknya dengan legenda Toar dan Lumimuut.

Kalau sudah begini, Anastasye mungkin harus mengucapkan, “Selamat datang di bumi Minahasa!” pada para pembaca novelnya.

 

PS: BiPer penasaran nih, apakah akan ada spin-off dari kisah Seira & Tongkat Lumimuut ini? Barangkali kisah Siow Kurur? Atau kisah Giddy? Atau Karema? Hmmm, mari kita tunggu saja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.