Review Film: We Need To Talk About Kevin (2011)

BICARAPEREMPUAN.COM – Hey, girls! Selain review buku, kita juga akan bahas mengenai review film nih mulai hari ini yah? Tak melulu film yang baru sih, BiPer akan lebih fokus pada cerita dan pesan apa yang mestinya tertangkap dalam film tersebut. Jadi, bukan karena anyar atau berating bagus di Rotten Tomatoes atau IMDb atau box office, film-film yang BiPer rekomendasikan ini pasti menawarkan sesuatu yang berbeda dan unik untukmu, meski mungkin ratingnya nggak terlalu tinggi. Untuk pertama kalinya, BiPer akan membahas review film We Need To Talk About Kevin.

Judul: We Need To Talk About Kevin
Sutradara: Lynne Ramsay
Produser:  Jennifer Fox, Luc Roeg, Bob Salerno
Skenario: Lynne Ramsay, Rory Stewart Kinnear
Pemain: Tilda Swinton, John C. Reilly, Ezra Miller
Tahun rilis: 2011
Durasi: 112 menit
Genre: thriller, drama, misteri
Produksi: BBC Films

 

 

Review film: We Need To Talk About Kevin
Review film: We Need To Talk About Kevin

Alur Cerita

Eva Khatchadourian adalah seorang ibu yang yah … bisa dibilang belum siap untuk punya anak. Anak pertamanya, Kevin, sejak kecil memang “berbeda”. Ia selalu menangis menjerit-jerit setiap waktu saat masih bayi.

Tapi anehnya, itu terjadi hanya saat ia bersama Eva. Kalau ada ayahnya, Franklin, Kevin bisa tenang, meski ia memang bukan anak yang periang. Ada sesuatu memang di dalam diri Kevin ini.

Hal ini terjadi sampai Kevin tumbuh besar. Ia menjadi anak troublemaker, setidaknya bagi Eva. Kevin menolak semua didikan dan ajaran yang diberikan oleh Eva; menolak toilet training dan bahkan dengan sengaja suka pup di celana hanya karena Eva nggak suka mengganti popok. Kevin mengenakan popok sampai usia sekitar–mungkin–5 – 6 tahunan gitu deh, girls, lantaran ia menolak toilet training ini.

BACA JUGA:  Review Film The Female Brain: Belajar Tentang Cinta dan Perasaan Wanita

Sehingga bisa dikatakan bahwa Eva kesulitan untuk bonding dengan anaknya ini. Bukannya tanpa usaha sih, karena Eva selalu working on it juga. Tapi entah kenapa, tak pernah berhasil. Semacam ada dinding tebal terbangun di antara Eva dan Kevin.

Sebaliknya, Kevin bisa berinteraksi dengan baik dengan Franklin, ayahnya. Tentu saja, hal ini membuat Eva semakin frustrasi dan depresi. Hingga suatu saat, karena begitu marahnya, Eva melempar Kevin hingga mengalami patah tangan.

Semua orang tentu saja menyalahkan Eva, karena Kevin memang berlaku bak anak manis di depan semua orang, bahkan pada perawat di rumah sakit sekalipun. Ia berlagak bahwa ia tak menyalahkan ibunya, dan patah tangan itu diakibatkan karena ia terjatuh saat diganti popok oleh Eva.

Padahal kemudian Kevin memanfaatkan luka dan insiden ini menjadi alat untuk memeras Eva agar mengikuti kemauannya.

Namun, suatu saat, Kevin tampak lengket dengan Eva saat ia dibacakan cerita Robin Hood. Keesokan paginya, Kevin mendapatkan hadiah berupa panah mainan dari Franklin. Sampai remaja, Kevin rajin berlatih memanah. Sepintas sih terlihat karena ia ngefans sama Robin Hood.

BACA JUGA:  7 Film Barat dan Film Indonesia Kontroversial karena Memuat Isu SARA

Kevin juga punya adik, Celia. Satu kecelakaan menyebabkan salah satu mata Celia terluka. Eva menuduh Kevin yang bertanggung jawab atas insiden ini, sedangkan Franklin membela Kevin. Hal ini berujung pada rencana perceraian antara Franklin dan Eva.

Suatu hari, Kevin menerima paket besar berupa gembok-gembok besi, yang dipesannya secara online. Tak seorang pun menaruh curiga pada hal ini.

Hingga kemudian, Kevin mengunci pintu-pintu sekolahnya dengan gembok-gembok tersebut, dan terjadilah pembantaian massal di sana.

 

Review film We Need To Talk About Kevin

We Need to Talk About Kevin: Tilda Swinton bersama para pemeran Kevin, dari balita hingga remaja. Image via Horror Geek Life.

Film ini diangkat dari novel berjudul sama, yang ditulis oleh Lionel Shriver, dengan sudut pandang penceritaan dari Eva. BiPer rasa, tagline  “Mummy’s little monster” ini benar-benar cocok untuk Kevin.

Alur ceritanya campuran, antara flashback dan alur maju, namun tak terlalu membuat penonton pusing. Cukup ada pemisah yang jelas, mana yang flashback dan mana yang terjadi sekarang.

“Kesunyian” hubungan antara Eva dan Kevin nampak sangat jelas, sejak Kevin masih bayi sampai saat Eva secara rutin mengunjungi Kevin di penjara. Ada satu adegan yang benar-benar melukiskan betapa sunyinya mereka, yaitu saat Eva dan Kevin duduk berhadapan di ruang kunjung penjara, saling diam, dan nggak saling menatap sampai bermenit-menit. Fyuh, benar-benar terasa betapa dinginnya perasaan mereka satu sama lain.

Akting Tilda Swinton memang tak perlu ditanya lagi. Tatapan kosong yang sering diperlihatkannya menambah nuansa kesunyian dalam film ini, menyimbolkan betapa sunyinya dirinya.

BACA JUGA:  9 Film Bioskop tentang Entrepreneur yang Wajib Tonton Bagi Para Calon Pebisnis Ulung

Ezra Miller juga tampil luar biasa. He’s one cutest innocent-looked villain BiPer have ever seen!

 

Moral of the story is ….

Kalau ada yg suka nanya, “Kapan mau punya anak?” Atau, kalau ada yg berpendapat, “Nggak mau punya anak itu menyalahi kodrat.” sepertinya akan bagus kalau mau menonton film ini.

Punya anak itu tak sekadar hanya punya momongan, tapi lebih dari itu. Butuh kesiapan mental (dan finansial) yang luar biasa untuk bisa menjalaninya dengan baik. Punya anak tak sekadar begitu lahir lalu selesai, tapi ada tugas, kewajiban, dan tanggung jawab yang besar mengiringinya sampai kita tutup usia.

So, girls, sempatkan waktu untuk menonton film ini saat senggang, dan belajarlah dari Eva.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.