Apakah KB IUD Hormonal Dapat Menurunkan Risiko Kanker Ovarium?

Keyword iud, iud hormonal, kb iud

Sumber: Freepik

Kanker ovarium adalah kanker yang muncul di ovarium (indung telur) wanita. Jika terdeteksi sejak stadium awal, peluang keberhasilan terapi jauh lebih tinggi dibandingkan apabila sudah memasuki stadium lanjut. Karena itu perempuan, terutama yang sudah memasuki masa menopause disarankan melakukan pemeriksaan rutin ke dokter kandungan.

Deteksi dan penanganan yang cepat dapat meningkatkan peluang hidup penderita. Pada tahap awal, kanker ovarium sering tidak menimbulkan gejala yang khas. Inilah sebabnya penyakit ini kerap terlambat terdeteksi.

Beberapa gejala yang perlu diwaspadai antara lain perut terasa kembung atau membesar, cepat merasa kenyang saat makan, penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, nyeri atau rasa tidak nyaman di area panggul, mudah lelah, nyeri punggung, sembelit, serta sering ingin buang air kecil. [2]

Jika keluhan tersebut terjadi terus-menerus dan tidak membaik, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter.   

Apa Itu KB IUD Hormonal?

KB IUD hormonal adalah alat kontrasepsi berbentuk spiral yang dipasang di dalam rahim dan mengandung hormon progesteron sintetis (biasanya levonorgestrel). Alat ini bekerja dengan beberapa cara untuk mencegah kehamilan.

Pertama, IUD hormonal membuat lendir di leher rahim (serviks) menjadi lebih kental sehingga sperma sulit masuk dan bergerak menuju sel telur. Kedua, alat ini menipiskan lapisan dinding rahim, sehingga jika terjadi pembuahan, sel telur yang sudah dibuahi akan sulit menempel. Pada sebagian wanita, IUD hormonal juga dapat menghambat atau menghentikan proses pelepasan sel telur (ovulasi).

Selain mencegah kehamilan, IUD hormonal juga memiliki manfaat lain, seperti mengurangi jumlah darah saat menstruasi dan membantu meredakan nyeri haid (dismenore). Karena itu, metode ini cukup banyak dipilih oleh wanita.

Namun, belakangan beredar bahwa IUD hormonal dapat menyebabkan kanker ovarium. Benarkah demikian?

Kaitan IUD Hormonal dengan Risiko Kanker Ovarium

Berdasarkan laman https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/33045859/, terdapat sebuah penelitian besar dalam bentuk tinjauan sistematis dan meta-analisis internasional yang menilai hubungan antara penggunaan IUD dan risiko kanker ovarium.

Peneliti menelusuri ratusan artikel ilmiah dan akhirnya memilih 9 penelitian yang memenuhi kriteria, yang terdiri dari 5 studi kasus-kontrol dan 4 studi kohort.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa wanita yang pernah menggunakan IUD memiliki risiko kanker ovarium sekitar 30% lebih rendah dibandingkan wanita yang tidak pernah menggunakan IUD. Menariknya, efek penurunan risiko tersebut juga terlihat pada pengguna IUD hormonal (LNG-IUD), penurunan risiko tersebut bahkan terlihat lebih kuat dengan hasil yang konsisten pada kedua jenis studi tersebut (kasus kontrol dan kohort).

Secara sederhana, penelitian ini menemukan bahwa penggunaan IUD tidak meningkatkan risiko kanker ovarium. Justru sebaliknya, IUD kemungkinan penurunan risiko kanker ovarium.

Dengan kata lain, berdasarkan ukti yang tersedia hingga saat ini,  belum ada data kuat yang menunjukan bahwa IUD hormonal meningkatkan risiko kanker ovarium.  Sebaliknya, beberapa penelitian mengindikasikan kemungkinan adanya efek perlindungan. [1] 

Cara Mendeteksi Kanker Ovarium

Beberapa kanker, seperti kanker payudara, usus, dan serviks, bisa dideteksi lebih awal melalui skrining rutin. Deteksi dini membuat pengobatan lebih efektif.

Sayangnya, kanker ovarium tidak memiliki program skrining rutin yang khusus. Tes yang ada sering menghasilkan hasil yang salah, baik positif palsu maupun negatif palsu. Selain itu, kanker ovarium jarang diawali sel prekanker, dan mengambil sampel jaringan dari ovarium cukup sulit.

Cara paling umum untuk memeriksa kanker ovarium adalah:

  • USG (ultrasonografi) untuk melihat kista atau benjolan di ovarium 

  • Tes darah untuk penanda tumor, misalnya CA 125 

USG bisa menunjukkan adanya massa di ovarium, tetapi sebagian besar massa itu bukan kanker. Bentuk atau ukuran massa bisa memberi petunjuk, tapi sering sulit membedakan mana yang ganas dan mana yang tidak hanya dengan USG.

Jadi, jika ada keluhan seperti perut membesar, nyeri panggul, atau gejala lain yang mencurigakan, tetap penting memeriksakan diri ke dokter. [3]

Memahami Faktor Risiko Kanker Ovarium

Kanker ovarium terjadi di indung telur dan sering sulit dideteksi pada tahap awal. Beberapa faktor dapat meningkatkan risiko wanita terkena kanker ovarium, antara lain riwayat keluarga yang pernah menderita kanker ovarium, obesitas, penggunaan terapi hormon pengganti, riwayat kanker atau endometriosis, masalah kesuburan, serta bertambahnya usia, terutama setelah menopause.

Di sisi lain, beberapa hal dapat menurunkan risiko kanker ovarium. Penggunaan pil kontrasepsi oral, kehamilan, dan menyusui diketahui memberikan efek perlindungan. Tindakan medis seperti pengangkatan ovarium dan tuba falopi, histerektomi, atau ligasi tuba juga dapat mengurangi kemungkinan berkembangnya kanker ovarium.

Memahami faktor-faktor ini membantu wanita lebih waspada terhadap kesehatan reproduksinya. Wanita dengan risiko tinggi disarankan melakukan pemeriksaan rutin dan berkonsultasi dengan dokter mengenai langkah pencegahan yang tepat. Dengan deteksi dini dan pengelolaan risiko yang tepat, kemungkinan terkena kanker ovarium dapat ditekan, meskipun faktor risiko tidak menjamin seseorang pasti terkena penyakit. [1]

Source:

  1. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/33045859/ Diakses 13 Februari 2026 

  2. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/ovarian-cancer/symptoms-causes/syc-20375941 Diakses 13 Februari 2026

  3. https://newsnetwork.mayoclinic.org/discussion/mayo-clinic-qa-get-the-facts-on-ovarian-cancer/ Diakses 13 Februari 2026