Hiperandrogen: Tanda Tanda dan Cara Mengatasinya

Hiperandrogen: Tanda Tanda dan Cara Mengatasinya

Pict: Freepik

Laki-laki dan perempuan sama-sama memproduksi hormon yang berfungsi untuk proses reproduksi. Beberapa contoh hormon yang terlibat dalam sistem reproduksi dan perkembangan tubuh adalah androgen dan testoteron yang termasuk dalam kelompok hormon steroid. Hormon ini sangat diperlukan di dalam tahap pubertas dan untuk perkembangan tubuh[1].

 

Pada prinsipnya, secara biologis, pria memang memproduksi androgen dan testosteron dalam jumlah yang jauh lebih tinggi. Produksi ini memuncak selama masa pubertas dan tetap tinggi sepanjang masa dewasa. Namun, perempuan juga menghasilkan androgen dan testosteron, meskipun dalam jumlah yang lebih kecil.

 

Namun, jika terdapat kelebihan hormon androgen dan testosteron ini, maka akan muncul gangguan pada kesehatan reproduksi perempuan Kelainan ini sering dikenal sebagai Hiperandrogen (hyperandrogenism).

 

Hiperandrogen merupakan kondisi medis di mana tubuh perempuan memproduksi hormon androgen, termasuk testosteron, dalam jumlah yang melebihi kadar fisiologis normal.

 

Meskipun androgen merupakan hormon yang secara alami juga diproduksi oleh tubuh perempuan , kadar yang berlebihan dapat menimbulkan gangguan kesehatan[1].

 

Kondisi ini paling sering ditemukan pada perempuan usia reproduktif, terutama antara usia 15 hingga 45 tahun. Hiperandrogenisme dapat menjadi indikator adanya gangguan hormonal yang lebih kompleks, seperti misalnya Sindrom ovarium polikistik (PCOS)[5].

Gejala Hiperandrogen pada Perempuan

  1. Timbulnya Jerawat

    Timbulnya jerawat yang persisten, Peningkatan androgen merangsang aktivitas kelenjar sebasea (minyak) di kulit, yang dapat menyebabkan jerawat

  2. Hirsutisme (tumbuh rambut yang tebal dan banyak)

    Hirsutisme ditandai dengan pertumbuhan rambut kasar dan gelap di area tubuh perempuan yang biasanya tidak berambut lebat, seperti wajah (kumis, dagu), dada, perut, dan paha. Ini terjadi karena androgen memengaruhi folikel rambut dengan pola maskulin

  3. Menurunnya Ukuran Payudara // Rambut Rontok (Alopecia Androgenik)

    Rambut kepala dapat menipis atau rontok dengan pola khas pria, terutama di bagian atas kepala dan pelipis

  4. Menstruasi Tidak Teratur atau Gangguan Menstruasi

    Hiperandrogenisme dapat mengganggu siklus menstruasi, menyebabkan menstruasi menjadi tidak teratur atau bahkan tidak terjadi sama sekali. Hal ini berkaitan dengan gangguan ovulasi dan fungsi ovarium[2].

  5. Berdampak Pada Psikis atau Psikologi pada Perempuan

    Gejala Hiperandrogen pada perempuan juga dapat ditandai dari sisi psikologis, seperti kurangnya percaya diri, anxiety, dan depresi.

Penyebab dan Faktor Resiko 

Terdapat beberapa penyebab Hiperandrogen yang terjadi, beserta faktor resiko yang dapat terjadi, seperti:

  1. PCOS

    Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) merupakan penyebab paling umum hiperandrogenisme pada perempuan usia reproduktif, dengan prevalensi sekitar 10–20%. PCOS ditandai oleh gangguan ovulasi, siklus menstruasi tidak teratur, dan adanya kista kecil pada ovarium. Ketidakseimbangan hormon dalam PCOS menyebabkan ovarium memproduksi androgen secara berlebihan[1].

  2. Obesitas dan Resistensi Insulin

    Perempuan dengan obesitas memiliki risiko lebih tinggi mengalami resistensi insulin, yang dapat merangsang ovarium untuk meningkatkan produksi androgen. .

  3. Gangguan pada Kelenjar Adrenal (//Hiperlapsia Adrenal Kongenital)

    CAH adalah kelainan genetik yang memengaruhi produksi enzim 21-hidroksilase, yang penting dalam sintesis kortisol dan aldosteron. Pada CAH terjadi gangguan enzim 21-hidroksilase yang mengakibatkan produksi hormon kortisol dan aldosteron menurun. Sehingga kelenjar adrenal menjadi membesar dan memproduksi hormon androgen secara berlebihan.

Penanganan dan Pengobatan

Perempuan yang mengalami Hiperandrogen dapat dilakukan penanganan dan pengobatan, seperti:

Obat anti-androgen

Obat ini bekerja dengan menghambat efek androgen di reseptor target atau menurunkan produksinya. Contohnya siproteron asetat (CPA), spironolakton, flutamide, [4].

Kontrasepsi hormonal kombinasi

Pil KB yang mengandung estrogen dan progesteron tertentu (misalnya drospirenon, levonorgestrel, norgestimate, desogestrel, CPA) dapat menurunkan produksi androgen ovarium , sehingga mengurangi androgen bebas dalam sirkulasi

Terapi hormonal kombinasi khusus

Kombinasi Siproteron asetat dan etinil estradiol (EE) efektif untuk mengatasi jerawat dan gejala hiperandrogen lainnya[4].

Perubahan Gaya Hidup Sehat

Melakukan diet sehat dan olahraga rutin untuk mencapai dan menjaga berat badan ideal, terutama jika hiperandrogen terkait dengan obesitas. Aktivitas fisik membantu meningkatkan sensitivitas insulin, terutama pada pasien dengan resistensi insulin.

Kapan Sebaiknya ke Dokter

Jika Anda mengalami gejala-gejala yang mengarah pada hiperandrogenisme—seperti menstruasi tidak teratur, pertumbuhan rambut berlebih di area tubuh tertentu, atau jerawat yang parah dan menetap, Anda bisa segera berkonsultasi kepada dokter terkait, agar mendapatkan rekomendasi dan saran pengobatan atau diagnosa yang tepat, sehingga hiperandrogen yang muncul bisa segera diobati atau dilakukan terapi.

 

Sebagai kondisi yang melibatkan ketidakseimbangan hormon androgen dalam tubuh perempuan dengan kondisi hiperandrogen perlu mendapat perhatian serius karena dapat menimbulkan berbagai gejala fisik dan gangguan kesehatan yang cukup signifikan. Penanganan yang tepat, mulai dari pemeriksaan medis hingga terapi hormonal, sangat penting untuk mengendalikan kadar hormon ini dan mencegah komplikasi lebih lanjut. Dengan pemahaman dan penanganan yang tepat, kualitas hidup penderita hiperandrogen dapat ditingkatkan secara optimal

 

Source:

1.Hyperandrogenism: What It Is, Causes, Symptoms & Treatment diakses 4 Juli 2025

2.Hiperandrogen pada Wanita Bukanlah Masalah Kesehatan Ringan - Alodokter diakses pada 4 Juli 2025

3.https://www.topdoctors.co.uk/medical-dictionary/hyperandrogenism/ diakses pada 4 Juli 2025

4.https://www.alodokter.com/atasi-kondisi-hiperandrogen-dengan-terapi-hormonal-kombinasi diakses pada 4 Juli 2025

5. Pallavi D et al 2021, European Journal of Obstetrics & Gynecology and Reproductive Biology. Volume 260, May 2021, Pages 189-197)