Ini Penyebab IUD Bisa Lepas Sendiri

Ini Penyebab IUD Bisa Lepas Sendiri

Sumber: Freepik 

Saat ini terdapat berbagai pilihan alat kontrasepsi untuk menunda kehamilan, salah satunya adalah KB IUD atau KB spiral. IUD adalah alat kontrasepsi berbentuk huruf T yang dipasang di dalam rahim untuk mencegah sperma bertemu sel telur dan memicu kehamilan. Ada dua jenis IUD, yaitu nonhormonal yang dilapisi tembaga dan hormonal yang mengandung progesteron sintetis.

KB IUD dikenal sangat efektif dengan tingkat kegagalan rata-rata hanya 0.2%. Selain itu, IUD juga bisa digunakan dalam jangka waktu lama. IUD non-hormonal bisa bertahan hingga 10 tahun tergantung jenisnya, sementara IUD hormonal dapat bertahan 3–8 tahun tergantung jenisnya.

Cara kerja IUD berbeda tergantung jenisnya. IUD non-hormonal menghalangi sperma masuk ke tuba falopi, sehingga sel telur sulit dibuahi. Sementara IUD hormonal membuat lendir serviks lebih kental sehingga sperma sulit bergerak,dan menipiskan dinding rahim. IUD hormonal juga sering membantu mengurangi aliran darah menstruasi dan nyeri haid.

Dengan kelebihan tersebut, KB IUD menjadi pilihan kontrasepsi jangka panjang yang aman dan nyaman. Namun, pemasangan IUD sebaiknya dilakukan oleh tenaga medis berpengalaman agar posisinya tepat dan tetap efektif.

IUD Bisa Lepas? Ini yang Perlu Diketahui

IUD adalah alat kontrasepsi berbentuk T yang dipasang di rahim dan bisa mencegah kehamilan dalam jangka panjang. Meski efektif, alat ini kadang bisa lepas (expulsion) dari tempatnya. Penelitian menunjukkan, sekitar 9 dari 100 remaja atau perempuan muda mengalami IUD pertama yang lepas. Dari mereka yang memasang IUD kedua, sekitar 1 dari 4 kembali mengalami mengalami ekspulsi.

Beberapa hal bisa meningkatkan risiko IUD lepas, misalnya haid yang sangat banyak, perdarahan uterus abnormal l, anemia, gangguan perdarahan, atau indeks masa tubuh (BMI) tinggi. Oleh karena itu, penting untuk rutin memeriksa posisi IUD dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan jika merasa ada yang tidak normal.

Meski ada risiko lepas, IUD T tetap aman dan efektif sebagai alat kontrasepsi. Pastikan Anda melakukan konsultasi kesehatan dan riwayat haid dengan dokter sebelum pemasangan, agar pemilihan KB sesuai dengan kebutuhan Anda. [1]

Apa yang Meningkatkan Risiko IUD Lepas? 

Berdasarkan penelitian besar di Amerika Serikat yang melibatkan lebih dari 228.000 orang, beberapa faktor bisa meningkatkan risiko ini. Salah satunya adalah perdarahan haid berat. Perempuan yang sering mengalami menstruasi dengan perdarahan banyak memiliki kemungkinan lebih tinggi mengalami IUD lepas.

Berat badan berlebih atau obesitas juga menjadi faktor risiko. Artinya semakin tinggi indeks massa tubuh (BMI), semakin besar kemungkinan IUD tidak berada di posisi yang tepat. Kemudian usia muda turut berperan, terutama perempuan di bawah 24 tahun, yang lebih berisiko dibandingkan perempuan yang lebih tua.

Selain itu, perempuan yang telah memiliki lebih dari empat anak (multiparitas) juga memiliki risiko lebih tinggi. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa ras atau etnis dapat memengaruhi risiko. Perempuan Asia atau Pasifik memiliki kemungkinan IUD lepas lebih tinggi dibandingkan perempuan kulit putih non-Hispanik.

Menariknya, nyeri haid biasa (dysmenorrhea) ternyata tidak secara langsung meningkatkan risiko IUD lepas jika faktor perdarahan haid sudah diperhitungkan. [4]

Tanda-Tanda IUD Lepas 

Walaupun jarang, komplikasi tetap dapat terjadi. Komplikasi yang paling umum meliputi IUD lepas, tembus rahim (perforasi), kesulitan saat dilepas, atau kegagalan mencegah kehamilan.

Tanda IUD lepas bisa berupa rasa tidak nyaman mendadak, perubahan panjang tali IUD, atau ketidaknyamanan saat menstruasi atau berhubungan seksual. Untuk mencegah risiko ini, penting untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum pemasangan, melakukan pemeriksaan rutin setelah pemasangan, dan waspada terhadap tanda-tanda IUD lepas. Dengan langkah-langkah ini, IUD tetap menjadi metode kontrasepsi yang efektif dan aman untuk jangka panjang. [3]

Memahami Posisi dan Masalah IUD 

IUD yang dipasang dengan benar berada di fundus rahim (bagian atas rahim) dengan lengan terbuka dan bagian vertikal lurus ke bawah. Jika posisinya dalam jarak 2 cm dari fundus dan tidak menonjol ke kanal serviks, IUD biasanya tetap efektif sebagai kontrasepsi.

Namun, IUD bisa salah posisi, misalnya terletak di segmen bawah rahim (>2 cm dari fundus), sebagian keluar atau berada di dalam serviks, tertanam di miometrium atau berputar, atau bahkan menonjol melalui serosa hingga masuk ke rongga perut.

Apa yang Harus Dilakukan Jika IUD Lepas?

Setelah pemasangan IUD, penting untuk selalu memperhatikan tanda-tanda bahwa alat bisa lepas, terutama dalam beberapa bulan pertama. Tanda yang perlu diperhatikan termasuk perubahan panjang tali IUD atau tidak bisa merasakan tali sama sekali. Memeriksa tali IUD secara berkala membantu mendeteksi masalah lebih awal sebelum menimbulkan komplikasi.

Jika Anda merasa IUD lepas, mengalami nyeri hebat, atau perdarahan yang tidak normal, segera hubungi tenaga kesehatan. Dokter akan melakukan pemeriksaan panggul dan, bila perlu, menggunakan ultrasound untuk memastikan posisi IUD tetap aman dan berada di tempat yang seharusnya.

Apabila IUD terlihat keluar sebagian atau berada di saluran serviks, biasanya alat akan dilepas dan diganti. Jika IUD sudah sepenuhnya keluar dari rahim, Anda perlu memasang IUD baru atau menggunakan metode kontrasepsi lain . Konsultasi cepat dengan tenaga kesehatan sangat penting untuk memastikan perlindungan KB tetap efektif.

Tips Mengurangi Risiko IUD Lepas 

Ada beberapa ada kemungkinan alat ini lepas dari rahim. Namun ada cara untuk meminimalkan risiko IUD lepas. Beberapa di antaranya adalah dengan konsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum pemasangan sangat penting, terutama jika memiliki riwayat perdarahan haid berat atau kondisi medis tertentu. Setelah IUD terpasang, lakukan pemeriksaan rutin untuk memastikan alat tetap berada di posisi yang aman. Selain itu, perhatikan tanda-tanda IUD lepas, seperti perubahan panjang tali IUD atau muncul rasa tidak nyaman yang tiba-tiba.

Dengan pemantauan dan tindakan pencegahan sederhana ini, IUD tetap menjadi pilihan kontrasepsi jangka panjang yang efektif. Jika merasa ada yang tidak beres dengan IUD, jangan ragu untuk segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan jika merasa ada masalah dengan IUD Anda, agar risiko komplikasi bisa diminimalkan. [2]

 

Sumber

  1. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/33189897/ Diakses 13 Februari 2026
  2. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/36357958/ Diakses 13 Februari 2026 
  3. https://link.springer.com/article/10.1007/s13669-023-00357-8 Diakses 13 Februari 2026 
  4. https://shvic.org.au/assets/resources/IUD-Intrauterine-device-malposition-and-perforation-March23.pdf Diakses 13 Februari 2026