IUD Hormonal Bikin Gemuk, Mitos atau Fakta?

IUD Hormonal Bikin Gemuk, Mitos atau Fakta?

Sumber: Freepik

 

Apa Itu IUD Hormonal?

IUD hormonal adalah alat kontrasepsi jangka panjang (KB) berbentuk T yang dipasang ke dalam rahim oleh tenaga kesehatan. Alat ini melepaskan hormon levonorgestrel, suatu jenis progestin, secara perlahan untuk mencegah kehamilan. Secara mekanisme kerja, hormon ini bekerja dengan menebalkan lendir serviks sehingga sperma sulit mencapai sel telur, menipiskan dinding rahim, dan kadang menghambat pelepasan sel telur.

Efektivitas IUD hormonal dapat mencegah kehamilan hingga 3–8 tahun tergantung jenisnya. Keunggulannya termasuk tidak memerlukan kepatuhan harian, dapat dilepas kapan saja, dan cocok untuk individu yang ingin menunda kehamilan tanpa tergantung pada pil atau metode lain yang perlu mengingat penggunaan rutin.

Meski efektif, banyak orang bertanya-tanya tentang efek sampingnya, termasuk masalah berat badan. Apakah IUD hormonal bikin gemuk?

Apakah IUD Hormonal Bisa Bikin Gemuk? Fakta dari Studi Terbaru

Banyak wanita khawatir bahwa penggunaan IUD hormonal atau kontrasepsi hormonal lainnya bisa menyebabkan kenaikan berat badan. Untuk menjawab kekhawatiran ini, para peneliti membandingkan perubahan berat badan selama 12 bulan pada wanita yang menggunakan IUD hormonal levonorgestrel (LNG-IUS), implant etonogestrel (ENG), atau suntik DMPA, dengan wanita yang menggunakan IUD tembaga. Studi ini dilakukan sebagai bagian dari Contraceptive CHOICE Project dengan lebih dari 9.000 peserta yang mendapat kontrasepsi tanpa biaya.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kenaikan berat badan selama satu tahun adalah 1,0 kg untuk IUD hormonal, 2,1 kg untuk ENG implant, 2,2 kg untuk DMPA, dan 0,2 kg untuk IUD tembaga. Walaupun pada angka tersebut terlihat ada perbedaan, setelah peneliti menyesuaikan berbagai faktor individual, tidak ditemukan perbedaan statistik dalam kenaikan berat badan antara pengguna IUD hormonal, implan ENG, maupun DMPA. Satu-satunya faktor yang terbukti memengaruhi kenaikan berat adalah ras kulit hitam, dengan rata-rata kenaikan 1,3 kg lebih tinggi dibanding ras lain.

Kesimpulannya, perubahan berat badan akibat IUD hormonal umumnya sangat kecil dan bervariasi pada setiap individu. Kenaikan berat lebih banyak dipengaruhi faktor individu, bukan semata karena hormon dari alat kontrasepsi. Jadi, kekhawatiran bahwa IUD hormonal akan membuat gemuk tidak sepenuhnya tepat. [2]

Pengaruh IUD Hormonal terhadap Berat Badan: Fakta yang Perlu Diketahui 

Banyak orang bertanya-tanya apakah kontrasepsi hormonal, termasuk IUD hormonal, bisa membuat berat badan naik. Studi terbaru membandingkan tiga jenis kontrasepsi jangka panjang: DMPA (suntik KB), IUD hormonal levonorgestrel (LNG-IUS), dan IUD tembaga (Cu-IUD) selama hingga sepuluh tahun.

Hasil studi menunjukkan bahwa semua pengguna kontrasepsi mengalami kenaikan berat badan seiring waktu. Setelah satu tahun penggunaan:

  • DMPA: +1,3 kg 
  • IUD hormonal: +0,7 kg 
  • IUD tembaga: +0,2 kg 

Setelah sepuluh tahun penggunaan, rata-rata kenaikan berat badan menjadi:

  • DMPA: +6,6 kg 
  • IUD hormonal: +4,0 kg 
  • IUD tembaga: +4,9 kg 

Temuan ini menunjukkan bahwa pengguna DMPA cenderung mengalami kenaikan berat badan lebih besar dibanding pengguna IUD hormonal atau IUD tembaga. Sementara itu, Kenaikan berat bedan badan pada IUD hormonal dan IUD tembaga relatif serupa dan cenderung tidak terlalu signifikan secara klinis.

Kesimpulannya, IUD hormonal dapat berkontribusi pada sedikit kenaikan berat badan, tetapi efeknya umumnya lebih kecil dibanding metode suntik DMPA, dan mirip dengan penggunaan IUD non hormonal yaitu IUD tembaga. Pemilihan metode kontrasepsi tetap harus mempertimbangkan kondisi kesehatan, gaya hidup, serta preferensi pengguna. Konsultasi dengan dokter spesialis kandungan obstetri dan ginekologi (SpOG) sangat dianjurkan untuk menentukan pilihan kontrasepsi yang sesuai. [1]

Menjaga Berat Badan Saat Menggunakan IUD Hormonal

Kenaikan berat badan yang signifikan dapat dipengaruhi oleh pola hidup sehari-hari, seperti pola makan, aktivitas fisik, tidur, dan tingkat stres. Oleh karena itu, menjaga gaya hidup seimbang menjadi kunci agar berat badan tetap stabil selama menggunakan IUD hormonal.

Salah satu langkah penting adalah menerapkan pola makan sehat dan teratur. Perbanyak konsumsi sayuran, buah-buahan, biji-bijian, dan protein sehat seperti ikan atau kacang-kacangan. Batasi makanan tinggi lemak jenuh, gula, atau gorengan yang bisa menambah kalori tanpa disadari.

Selain itu, cukup minum air putih juga penting, karena air membantu metabolisme tubuh dan memberi sensasi kenyang sehingga mengurangi keinginan makan berlebihan. Membatasi karbohidrat olahan seperti roti putih, pasta, atau mie instan, karena makanan ini memiliki indeks glikemik tinggi, sehingga meningkatkan gula darah dan memicu rasa lapar lebih cepat.

Selain pola makan, aktivitas fisik rutin sangat dianjurkan. Olahraga aerobik seperti jogging, berenang, bersepeda, atau jalan cepat setidaknya 30 menit per hari atau total 150–300 menit per minggu dapat membantu membakar kalori, menjaga metabolisme tetap aktif, dan menjaga massa otot. Aktivitas fisik juga bermanfaat untuk kesehatan jantung dan meningkatkan energi sepanjang hari.

Faktor lain yang sering diabaikan adalah kualitas tidur dan manajemen stres. Kurang tidur dapat meningkatkan hormon ghrelin yang memicu rasa lapar, sementara stres berlebihan dapat memicu  pola makan emosional yang membuat seseorang cenderung lebih banyak makanan. Pastikan tidur cukup setiap malam, idealnya 7–9 jam, dan luangkan waktu untuk relaksasi atau hobi yang menyenangkan untuk mengurangi stres.

Terakhir, pantau berat badan secara rutin, misalnya 1-2 minggu sekali. Hal ini membantu mengenali perubahan lebih cepat sehingga bisa segera menyesuaikan pola makan atau olahraga jika diperlukan.

Dengan menjaga pola makan sehat, tetap aktif, cukup tidur, dan mengelola stres, pengguna IUD hormonal dapat menjaga berat badan tetap stabil. Ingat, IUD hormonal biasanya hanya memberikan peningkatan berat badan minimal, dan gaya hidup sehat adalah kunci utama untuk mencegah kenaikan yang signifikan.

 

Source:

  1. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/25160484/ Diakses 13 Februari 2026 
  2. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/2660092/ Diakses 13 Februari 2026